Pengalaman Mengikuti eLearning Wildlife Conservation Course dari WildCRU

Selama 2 tahun terakhir, saya sedang senang-senangnya mengikuti webinar dan online course.

Sayangnya, sebagian besar di antaranya berhenti di tengah jalan.

Di antara sedikit course yang bisa saya selesaikan, salah satunya adalah e-WCC 2018 (eLearning Wildlife Conservation Course), sebuah online course di bidang konservasi satwa liar dari WildCRU (Wildlife Conservation Research Unit) dari Universitas Oxford

Selain materi-materi yang diajarkan, banyak hal yang saya pelajari saat mengikuti kursus tersebut.

Sekilas tentang e-WCC WildCRU

e-WCC merupakan bentuk online dari Postgraduate Diploma in International Wildlife Conservation Practice yang dikembangkan oleh Dr. Lucy Tallents dan Dr. Cedric Tan.

Kusrus ini pertama kali diadakan tahun 2016 dan telah berkembang dalam hal modul yang diajarkan dan metode pengajarannya. 

Sasaran dari kursus ini adalah conservation biologists yang berasal dari Asia, yang masih berada dalam awal atau pertengahan karirnya.

Kursus dilakukan mulai dari 22 Oktober 2018 hingga 28 Januari 2019, dengan perkiraan waktu belajar 4 jam per minggu.

Pendaftaran dilakukan dengan membuat video yang menjelaskan tentang pengalaman di dunia konservasi dan apa yang hendak dicapai lewat kursus ini.

Video harus berdurasi 1 menit atau kurang.

Kursus ini juga digunakan oleh  Dr. Cedric untuk studi efektifitas metode pengajaran yang dibuatnya.

Proses aplikasi

Mendapatkan informasi lewat group whatsapp kantor, saya seketika langsung berminat untuk ikut.

Video untuk proses pendafataran saya hanya 58 detik.

Tapi proses pembuatannya berjam-jam. Haha.

Kesulitan utamanya adalah durasi video yang dibatasi hanya satu menit. Untuk menekan durasi video, saya harus memangkas kata-kata di dalamnya dan mengulangnya berkali-kali.

Pendaftaran diterima: yeay!

ewcc2

Selanjutnya, bayar.

Kursus ini gratis alias tidak dipungut biaya.

Namun kita harus membayar deposit 50 pounsterling (sekitar 930 ribuan rupiah) di awal sebagai syarat mengikuti kursus.

Uang ini akan dikembalikan jika kita mampu menyelesaikan kursus, dan mendapat nilai > 50 di setiap modul yang dijalani. Jika syarat ini terpenuhi, kita juga akan mendapatkan sertifikat.

Proses pembayaran ini saya lakukan dengan mudah.

Saya nunut bayar lewat teman saya yang kebetulan masih punya tabungan dalam bentuk poundsterling.

Setelah sukses, saya mengisi formulir yang berisi bahwa saya bersedia menjadi objek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan kursus.

Di sini peserta bebas untuk memilih, apakah bersedia atau tidak bersedia.

Saya sendiri bersedia.

Konsekuensinya, saya harus mengisi kuesioner mengenai efektifitas proses pembelajaran pada setiap akhir modul.

Saya disambut dengan hangat oleh Dr. Cedric Tan, perancang sekaligus pengajar utama kursus ini.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan Cedric, beliau adalah orang yang ramah, ekspresif dengan selera humor tinggi.

Materi yang diajarkan

Materi dibagi menjadi tiga kelompok skill:

  • Research skill
  • Analytical skill
  • Communication skill.

Research skill terdiri atas dua modul yaitu Conservation Research: the scientific process, dan Survey and experimental design.Analystical skill terdiri atas lima modul:

  • Statistical analysis using R
  • Spatial analysis using QGIS
  • Accupancy (habitat use)
  • Population viability analysis (PVA)
  • Captur-mark-recapture/ CMR (density analysis)

Di sini kita harus memilih dua modul di antara Occupancy, PVA, dan CMR.Saya memilih Occupancy dan CMR.Selanjutnya, Communication skill yang terdiri atas tiga modul, yaitu:

  • Presentation skills,
  • Creating videos
  • Creating games

Sama seperti sebelumnya, kita harus memilih satu dari dua modul, video vs game.Saya memilih modul creating games.Kurikulum kursus secara lengkap dapat dilihat di gambar di bawah ini:

Kurikulum dan jadwal kursus

Gambaran proses belajar di e-WCC

Kursus dijalankan menggunakan platform Canvas.

Sejauh pengalaman saya di eWCC, canvas memiliki banyak fitur yang memudahkan proses belajar.

Pihak WildCRU juga telah mendesain kurikulum dan bahan ajar yang luar biasa dengan memanfaatkan dengan optimal platform canvas ini.

Berikut dashboard kursus dalam platform Canvas

Dashboard eWCC
Dashboard eWCC di platform Canvas

Waktu kursus: fleksible

Materi tidak diberikan secara penuh di awal, melainkan diunlock sesuai jadwal yang telah tertera.

Pada dua minggu pertama, modul pertama dibuka.

Pada minggu ketiga, modul kedua dibuka, tanpa perlu menunggu semua peserta menyelesaikan materi di modul pertama.

Pada setiap modul berikutnya dibuka, modul sebelumnya masih dapat diakses.

Metode seperti ini memungkinkan kecepatan jalannya kursus dapat disesuaikan mengikuti pace setiap peserta.

Pada setiap modul, peserta diberikan waktu perkiraan penyelesaian modul. Rata-rata setiap modul ditargetkan dapat selesai dalam durasi pengerjaan 4 jam per minggu.

Namun, untuk menjaga waktu kursus tetap terjaga, diberikan pula deadline untuk beberapa tugas utama dan tambahan.

Deadline ini bersifat kaku dan tidak dapat ditawar.

Bagaimana dengan peserta yang tidak bisa menyelesaikan tepat waktu, atau mendapat nilai yang masih kurang?

Untuk hal ini, kita akan diberi waktu di akhir modul atau di akhir kursus untuk mengulang materi dan mengumpulkan tugas kembali, dengan penalti terhadap nilai materi tersebut.

Saya sendiri biasanya membaca materi dan mengerjakan tugas di hari Sabtu pagi.

Metode pengajaran

Salah satu hal yang saya sukai dari kursus ini adalah metode pengajarannya yang sistematif, kreatif, variatif, efektif dan transparan.

BACA JUGA  Hair Dryer

Sistematis

Kursus dimulai dari mengasah kemampuan penelitian, kemampuan analitikal dan kemampuan komunikasi.

Susunan urutan modul dan materi di setiap modul disusun dengan sistematis.

Saya diberikan gambaran yang jelas mengenai “jalan cerita” kurikulum, mulai dari awal hingga akhir.

Jadi kita tidak kebingungan dan tersesat dengan banyaknya materi.

Kita akan selalu dapat meletakkan setiap materi di tempatnya untuk mendapatkan gambaran utuh dari proses penelitian dalam bidang konservasi satwa liar.

Setiap modul terdiri atas beberapa kegiatan yang kemudian diberi simbol tersendiri.

Simbol A berarti assignment, berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan. Untuk dapat lulus, kita harus mencapai nilai 50 di setiap tugas.

Simbol C berarti challenge. Tantangan yang dimaksud biasanya adalah tantangan untuk melakukan proses kegiatan secara mandiri. Biasanya terkait dengan software (R dan QGIS).

Simbol D berarti disscussion. Di kegiatan ini, kita memberikan pemikiran dan pendapat mengenai suatu topik. Melalui kegiatan ini, juga sering digunakan untuk berbagi pengalaman serta saling membantu dalam trobleshooting dalam pemakain software.

Kegiatan diskusi sebagian besar dinilai dan berkontribusi pada nilai akhir setiap modul.

Simbol L berarti lecture. Berisi materi kuliah, biasanya dalam bentuk video interaktif.

Simbol P berarti page. Page adalah halaman tertentu yang dibuat untuk mengarahkan kita ke halaman website untuk melakukan kegiatan lain, seperti membuat avatar, komik atau mind map.

Simbol Q berarti quiz. Seperti kuliah pada umumnya, di tengah-tengah kegiatan kuliah biasanya ada kuis untuk mengetes pemahaman kita. Biasanya kuis ini dinilai.

Simbol V berarti Video. Berisi video supplementer untuk memberikan pengayaan terhadap materi yang dikaji. 

Setelah penjelasan mengenai kegiatan yang ada, diberikan tips-tips dan passing grade yang harus dicapai untuk mendapatkan predikat tertentu, sesuai nilai yang didapatkan. Penjelasan ini terangkum dalam halaman “How to achieve success” yang dibuat unik pada setiap modul.

How to achieve success
How to achieve succes

Kreatif

Dr. Cedric dan timnya telah melakukan kerja yang sangat baik dalam perancangan kursus ini.

Dengan sangat kreatif, tim selalu membuat skenario berbeda pada setiap modul.

Misalnya, pada modul keenam, kita dikisahkan menjadi seorang murid tae kwon do yang sedang berlatih untuk mendapatkan sabuk hitam.

Pada modul tersebut, kita disimulasikan bahwa sebelum mendapat sabuk hitam, kita pelu mendapatkan sabuk putih dan sabuk kuning, hijau, biru dan merah terlebih dahulu.

Lalu, untuk mendapatkan setiap sabuk, kita perlu menyelesaikan dan tugas tertentu.

Di sinilah kemudian dimasukkan materi dan tugas setiap modulnya.

Di akhir modul, kita dievaluasi.

Kita akan dinilai dan mendapat gelar dengan level sesuai pencapaian kita.

Kisah atau jalan cerita di setiap modul dibuat berbeda, misal pada modul keempat kita menjadi pelatih sepakbola, atau pada modul: Creating Games, kita diasumsikan sedang berjuang dari gamer noob menjadi gamer profesional.

Pada awalnya saya merasa hal seperti ini agak childish.

Namun pada akhirnya saya bisa menikmatinya, dan sadar bahwa metode seperti ini bisa menjadi metode yang sangat efektif, terutama untuk menghindarkan kebosanan.

Variatif

Setiap materi dan proses pengajaran disampaikan dengan metode yang berbeda-beda, di antaranya:

  • Video kuliah
  • Video kuliah interaktif
  • Video supplementer
  • Materi supplementer (artikel ilmiah)
  • Tutorial software dalam bentuk teks
  • Tutorial software dalam bentuk video

Di antara metode di atas, video kuliah interaktif menurut saya sangat efektif.

Metode ini meniru proses kuliah tatap muka di mana pengajar, ditengah proses mengajar dapat memberikan kuis singkat yang harus dijawab.

Dalam prakteknya, di dalam video kuliah diselipkan pertanyaan-pertanyaan berupa kuis pilihan ganda yang secara langsung harus kita jawab, sebelum video dapat dilanjutkan kembali.

Setiap selesai menjawab, jawaban kita dievaluasi benar salahnya. Lalu, diberikan penjelasan atas jawaban pertanyaan tersebut.

Selain metode kuliah, kursus ini juga memberikan banyak tugas dalam bentuk yang variatif, mulai dari:

  • Diskusi aktif
  • Laporan singkat
  • Review artikel, video atau podcast.
  • Menjawab soal
  • Melakukan pengukuran langsung.
  • Melengkapi tutorial
  • Membuat poster
  • Diagram alir kolaboratif
  • Membuat video presentasi
  • Membuat cerita pendek kolaboratif
  • Membuat komik
  • Membuat avatar
  • Membuat imaginary species
  • Membuat games

Tugas dapat berupa tugas individu maupun kelompok.

Variasi jenis tugas ini banyak memberikan saya pengalaman baru, misal membuat komik, diagram alir kolaboratif, dan membuat games.

Beberapa contoh tugas yang saya buat adalah sebagai berikut:

Avatar dalam tugas
Avatar dalam tugas “Step into the shoes of others”
Komik yang saya buat untuk tugas
Komik yang saya buat untuk tugas “What can go wrong without a proper design”
  • Diagram alir kolaboratif (dibuat menggunakan Coggle)
Hasil mind map yang dibuat secara kolaboratif pada tugas
Hasil mind map yang dibuat secara kolaboratif pada tugas “PSBR (Pressure, State, Benefit, Response) Mind Map”

Banyaknya jenis tugas ini juga dapat mengoptimalkan setiap skill peserta, di mana pasti setiap peserta memiliki skill berbeda-beda.Bagi saya pribadi, tugas membuat games adalah tugas yang paling saya nikmati.

Efektif

Hal yang lebih baik daripada variasi jenis tugas adalah penempatan dari setiap jenis tugas itu sendiri.

Saya merasa, Cedric dan timnya telah berhasil menempatkan setiap tugas dengan tepat.

Misal, tugas membuat poster diberikan pada materi mengenai: Bagaimana membuat poster yang baik?

Contoh lain, misalnya saat materi mengenai faktor-faktor lingkungan apa saja yang dapat digunakan dalam proses Species Distribution Modelling.

Waktu itu tugas yang diberikan adalah membuat imaginary species beserta penjelasan perilakunya.

Dari spesies baru itu, kita diharuskan menarik faktor lingkungan apa saja yang dapat dimasukkan dalam pemodelan spasial menggunakan GIS.

Contoh lagi ya.

Pada materi mengenai story telling, kita diminta mengidentifikasi bagian-bagian pemulisan cerita melalui mendengar podcast.

BACA JUGA  Belajar R langsung dari ahlinya: Kopdar useR Indonesia, Bogor

Contoh terakhir, adalah saat materi mengenai data input dan data handling.

Setiap peserta ditugaskan melakukan pengukuran panjang dan lebar daun beserta beberapa input data yang terkait. Lalu hasil pengukuran ini dikumpulkan dalam sebuah tabel yang akan digunakan secara bersama-sama.

Di sini kita benar-benar mengalami secara langsung adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam input data, dan mencari penyelesaiannya.

Dari sekian tugas, bagi saya, yang sangat efektif adalah tugas melengkapi tutorial.

Pada awalnya kita diberikan tutorial lengkap untuk sebuah proses menggunakan R dan RStudio.

Maka pada tutorial berikutnya, beberapa langkah-yang sudah dijelaskan pada tutorial sebelumnya dituliskan dan dikosongkan secara random, dan kita harus mengisinya.

Selain itu, pada beberapa bagian tutorial, terdapat langkah penulisan yang salah yang digunakan untuk menjebak kita. Kita harus bisa menemukan kesalahan tersebut dan membenarkannya.

Proses ini sangat efektif, apalagi diterapkan pada proses latihan menulis syntax pada bahasa pemrograman R.

Transparan

Setiap modul memiliki tugas-tugas yang harus diselesaikan. Dan setiap tugas memiliki bobot nilai yang dapat dibaca setiap saat.

Dengan transparansi seperti ini, saya bisa membuat strategi ketika kehabisan waktu.

Saya bisa menentukan mana yang harus saya kerjakan, mana yang harus dikerjakan lebih dulu, dan mana yang dikerjakan paling akhir.

Apa yang saya dapatkan?

Pengetahuan dan pengalaman baru pastinya.

Tapi pengetahuan dan pengalaman seperti apa?

Pertama, pengetahuan tentang merencanakan dan melaksanakan penelitian.

Kursus dimulai dengan materi mengenai proses berpikir saintifik, dasar-dasar penelitian, membuat proposal penelitian.

Materi ini berisi tentang bagaimana membangun proses berpikiri saintifik, apa pentingnya konservasi, peran penelitian terhadap konservasi, konservasi berbasis bukti (evidence-based conservation).

Selanjutnya, kita dibekali dengan kemampuan membuat desain penelitian dan desain survey.

Materi ini mengajarkan proses perencanaan penelitian dan survey serta jenis-jenis sampling dan eksperimen beserta bagaimana memilihnya.

Kedua, kemampuan melakukan analisis menggunakan QGIS dan R.

Setelah mendapatkan pengetahuan dasar, kita dilatih melakukan analisis spasial menggunakan QGIS, serta pemodelan Occupancy, Capture-Mark-Recapture dan PVA menggunakan R.

Perlu di highlight, kursus ini menggunakan software open source sehingga dapat dengan mudah diakses oleh semua peserta.

Bagi saya pribadi, latihan pemodelan Occupancy dan CMR yang saya lakukan menggunakan R memberi saya dua keuntungan.

Pertama, saya jadi bisa melakukan analisis Occupancy dan CMR.Kedua, saya semakin mahir menggunakan R.Setelah selesai dengan hal-hal yang berbau analisis, kita diberikan materi tentang cara mengkomunikasikan hasil penelitian baik lewat laporan, poster, presentasi oral, maupun video.

Pada bagian akhir, saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman membuat games.

Pengalaman ini, harus saya akui, sangat-sangat menantang, dan menyenangkan.

Saya membuat sebuah board game mengenai proses pengamanan kawasan taman nasional.Game dapat dimainkan 5-12 orang. Setiap orang akan memainkan peran sebagai perambah, pemburu, dan polhut.

Pada proses ini, kemampuan berfikir logis dan sistematis, serta kreatifitas saya benar-benar diuji.

Kelebihan: kursus online seharusnya dirancang seperti ini

Sepertinya saya tidak akan habis memuji betapa bagusnya kursus eWCC ini.

Banyak kursus online yang saya ikuti selama dua atau tiga tahun terakhir, mulai dari bidang yang saya tekuni (GIS, remote sensing, spatial data analysis), yang saya sukai (music production,desain infografis), maupun yang sekedar iseng dan ingin tahu saja (jurnalistik, personal branding).

Namun sedikit yang dapat membuat saya bertahan sampai akhir.

Alasan saya berhenti biasanya ada dua:

Pertama, bosan.

Alasan klasik sebenarnya ini, hehe. Tapi memang selalu menjadi musuh utama saya.

Alasan kedua, kurikulumnya tidak sesuai dengan apa yang saya pelajari.

Terkait hal ini, saya meyakini bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang efektif.

Untuk saya sendiri, proses belajar yang efektif adalah dengan mempelajari garis besar atau jalan ceritanya terlebih dahulu (aka membuat kurikulumnya), baru kemudian mempelajari bagian detilnya satu-persatu.

Kursus e-WCC bagi saya, dapat menjawab dua tantangan tersebut.

Pertama, kursus dirancang dengan sangat kreatif..

Variasi dalam penyampaian materi dan pemberian tugas sangat membantu saya mengatasi kebosanan.

Story board yang diberikan pada setiap modul menambah proses belajar semakin menarik.

Selain itu sistem reward yang diberikan selaras dengan storyboard pada setiap modul dapat memberikan gambaran langsung mengenai level pemahaman kita terhadap setiap materi.

Kedua, kursus ini merupakan sebuah paket lengkap.

Kursus dirancang mulai dengan mengasah kemampuan penelitian, kemampuan analitikal dan kemampuan komunikasi.

Komplit.

Jadi, saya tidak perlu mencari dan melompat-lompat dari kursus satu ke yang lain.

Dan yang paling efektif, adalah adanya pembayaran deposit.

Bagi saya ini efektif, karena jika saya berhenti atau gagal dalam kursus, itu berarti saya akan kehilangan hampir sejuta rupiah.

Tentu saja ini keadaan yang berbahaya.

Kekurangan: tugas kelompok dan intensitas materi

Saya sebenarnya tidak bisa menganggap ini kekurangan.

Mungkin lebih tepatnya adalah tantangan.

Pertama, terkait tugas kelompok.

Pengerjaan tugas kelompok membutuhkan diskusi antar anggota kelompok sebagai sebuah keharusan.

Masalahnya adalah, seringkali setiap anggota kelompok memiliki jadwal yang berbeda-beda.

Konsekuensinya, saat saya siap mengerjakan, anggota kelompok yang lain sedang ada kesibukan lain. Atau sebaliknya, meraka bisa saat saya sedang ada kegiatan atau pekerjaan.

Hal ini cukup menghambat proses pembelajaran.

Kendala ini membuat proses diskusi melalui skype sangat sulit dilaksanakan.

Kondisi ini dapat dikurangi, misalnya dengan membuat Whatsapp atau Telegram group.

BACA JUGA  Belajar Statistika: Dari alasan perlunya belajar statistika, statistik vs statistika, populasi dan sampel, level pengukuran data, dan statistika deskriptif vs inferensial

Praktek ini belum dilakukan dalam kursus tersebut karena kursus hanya menggunakan platform canvas yang tidak cukup fleksibel dan “dekat” dengan peserta kursus.

Tantangan kedua adalah terkait dengan intensitas kursus.

Saya harus akui, saya cukup keteteran dengan jadwal kursus ini. Puncaknya saat masuk ke modul Occupancy dan Capture-Mark-Recapture.

Ada satu modul yang tidak bisa saya selesaikan karena pada saat yang sama saya melakukan pekerjaan dinas dan lapangan selama 3 minggu.

Untung waktu itu saya diberikan kesempatan untuk remidial.

Hal yang sangat familiar bagi saya selamat waktu SMA dulu.

Pekerjaan saya sehari-hari membuat waktu kursus saya hanya terbatas di waktu weekend.

Dan terkadang, saya sering tidak mampu mengorbankan waktu weekend saya.

Pada beberapa kesempatan, saya harus lembur mengerjakan tugas terutama untuk tugas membuat video dan membuat games.

Bahkan pernah suatu saat, saya mengerjakan dua buah laporan untuk tugas praktikum modul Occupancy dan CMR dalam perjalanan kereta malam Jogja-Jakarta.

Tanpa tidur.

Di sisi lain, perkiraan kebutuhan waktu kursus 4 jam per minggu menurut saya terlalu optimistis.

Belum lagi untuk pengerjaan tugas kelompok yang membutuhkan waktu yang lebih lama.

Setiap evaluasi di akhir modul saya selalu mengisi waktu penyelesaian modul per minggu antara 8-12 jam.

Ternyata saya tidak sendiri.

Ada juga ternyata yang meminta perpanjangan waktu dan pengunduran deadline karena merasa kurang waktu akibat padatnya aktifitas sehari-hari.

Menurut saya, mengingat pentingnya materi yang diajarkan, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menambah durasi kursus.

Tetapi ini juga harus dipikirkan kembali mengingat kursus sudah memiliki durasi panjang yaitu 2-3 bulan.

Penambahan durasi kursus bisa jadi akan menimbulkan masalah baru baik di sisi penyelenggara maupun peserta kursus.Selain kendala terkait waktu, beberapa kendala teknis juga terjadi.

Namun untuk hal ini, pihak WildCRU selalu dengan sigap memberikan arahan dan troubleshooting.

Hasil akhir

Hasilnya….

Tidak lulus
Tidak lulus

Saya tidak lulus.

Sertifikat tidak saya dapatkan.

Uang saya tidak akan kembali.

Bahaya.

Saya merasa aneh karena saya merasa menyelsesaikan kursus dengan nilai di atas 50 persen semua.

Saya lalu mengecek nilai saya satu persatu dan menyadari bahwa nilai remidial saya belum masuk ke total nilai.

Setelah saya konfirmasi ke Cedric, saya diminta menunggu.

Beberapa hari berikutnya, saya mendapat email dari Cedric.Nilai remidial saya sudah masuk. 

Lulus ternyata
Lulus ternyata

Dan saya lulus.

Akhirnya saya dapat sertifikat.

Akhirnya uang saya kembali.

Setelah 3 bulan kursus yang sangat intens dan fun, saya merasa puas bisa menyelesaikannya.

Saya juga boleh berbangga karena hanya 24 peserta saja yang lulus dari total 80 peserta. 

Wrap up.

eWCC jauuuh sekalii dari apa yang saya bayangkan.

Jauh lebih bagus maksudnya.

eWCC berbeda dengan beberapa kursus online yang pernah saya ikuti di mana saya bisa mengikuti dengan santai dan bisa berhenti kapan saja.

Kursus ini jauh lebih intens dan melelahkan. Kita dituntut untuk selalu aktif dan selalu terlibat dalam proses belajar.Kursus ini akan sangat berat untuk orang yang tidak familiar dengan GIS/ QGIS.

Akan lebih berat lagi bagi yang belum pernah bersentuhan dengan R.

Namun, dengan usaha yang tekun didukung dengan hebatnya pengajar dan sistem pengajaran, serta teman-teman yang supportive, semuanya akan menjadi mungkin.

Setidaknya, itu yang saya rasakan.Setelah berbulan-bulan lelah dengan semua materi dan tugas, saya  bisa menyelesaikan kursus dan mendapatkan sertifikat, serta menjadi bagian dari 24 orang dari 80 orang yang lulus.

Itu memberikan perasaan bangga dan kelegaan luarrrrrrrr biasa.

Saya sangat merekomendasikan kursus ini kepada setiap penggiat konservasi satwa liar, terutama yang masih pemula seperti saya.

Kursus ini memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman proses belajar baru yang lebih menyenangkan.

Pengalaman belajar di kursus ini juga memberikan gambaran kepada saya mengenai proses mengajar yang efektif. Hal ini nantinya akan saya terapkan di masa depan.

Saya sengaja menuliskan secara lengkap di sini untuk catatan saya. Suatu hari di masa depan, saya pasti akan membutuhkan catatan ini.

Selanjutnya, berdasarkan pengalaman saya, saya akan merekomendasikan beberapa jenis kursus yang dilakukan oleh WildCRU:

  1. Post graduate diploma: Recanati-Kaplan Centre Postgraduate Diploma in International Wildlife Conservation Practice
  2. Wildlife Conservation Course
  3. eLearning Wildlife Conservation Course

The Wildlife Conservation Course adalah cikal bakal eLearning yang saya ikuti. Kursus ini diadakan secara tahunan sejak tahun 2014, dengan mengambil tempat yang berbeda di setiap tahunnya.

Setelah selama tiga tahun (2016-2018) kursus ini diadakan di Malaysia, di tahun 2019, kursus ini diadakan di Filipina. Kursus tahun ini mengambil tema Game of Thrones.

Posternya dapat dilihat di bawah ini.

WCC 2019 Filipina
Wildlife Conservation Course 2019 Filipina

Sedangkan program eLearning Wildlife Conservation Course merupakan program belajar secara online yang saya ikuti, dan yang saya tuliskan di tulisan ini.

Oke, sepertinya saya sudah menulis dengan lengkap pengalaman saya.

Mungkin salah satu yang nantinya membaca tulisan ini pernah juga mengkikuti 3 kursus di atas?

Boleh dong sharing.

Tulis di kolom komentar ya, biar bisa dibaca orang banyak lainnya. 

Edit: Untuk lebih mengetahui mengenai eWCC, tulisan ini dapat pula dibaca. Artikel tersebut ditulis oleh seorang teman sekelas saya di eWCC 2018-2019.

Bagikan ke yang lain
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belajar Geographic Object Based Image Analysis (GEOBIA)Pelajari lebih lanjut..