Analisis Kependudukan Kabupaten Gunungkidul, DIY

analisis kependudukan

Setiap wilayah mempunyai sumberdaya yang berbeda-beda, baik sumberdaya alam, buatan, dan sumberdaya manusianya.

Perbedaan dalam hal sumberdaya, dan kebutuhan dalam pencapaian tujuan daerah akan menimbulkan perbedaan dalam hal kebijakan yang akan dijalankan.

Untuk itu, perlu dilakukan analisis dan evaluasi potensi dan pemanfaatan sumberdaya yang ada di wilayah tersebut.

Analisis dilakukan pada setiap jenis sumberdaya yang ada, termasuk pada sumberdaya manusianya. Analisis kependudukan memandang manusia bukan lagi hanya sebagai objek, namun juga sebagai subjek pembangunan, sehingga perencanaan juga didasarkan pada hal ini.

Analisis dalam bidang kependudukan digunakan untuk menghitung jumlah potensi sumberdaya manusia, berikut manfaat dan permasalahan yang akan muncul.  Hasil analisis ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk perencanaan pembangunan wilayah dimasa yang akan dating.

Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dibandingkan dengan kabupaten yang lainnya, kualitas sumberdaya manusia Gunungkidul masih berada di level bawah.

Pada tulisan ini, analisis kependudukan dilakukan dengan menganalisis persebaran dan kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, rasio ketergantungan, tingkat pendidikan, status pendidikan dan angka melek huruf.

Gambaran Keadaan Gunungkidul

Kabupaten Gunungkidul merupakan  salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Ibukotanya Wonosari. Letak geografi Gunungkidul 110O 21’sampai 110O 50′ BT dan
7O 46’sampai 8O 09′ LS.

Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk menjalankan pemerintahannya, Gunungkidul terbagi atas 18 kecamatan dan 144 desa.

Peta administrasi Kabupaten Gunungkidul

Secara umum Gunungkidul merupakan daerah dengan topografi berbukit-bukit dengan sekitar setengah wilayahnya mempunyai kemiringan lebih dari 15%. Daerah utara dan barat merupakan daerah Pegunungan Baturagung dan Pegunungan Seribu di daerah selatan.

Hanya di daerah tengah-tengahnya yang merupakan daerah relatif datar dan disebut Wonosari Plateau yang terdiri dari Kecamatan Wonosari, Playen, Semanu, Karangmojo, dan Paliyan.

Ketinggian daerah Gunungkidul bervariasi dari 0 m atas permukaan laut di daerah pantai, 100 – 400 m di wilayah karst Pegunungan Seribu, 100 – 200 m di daerah Ledok Wonosari, dan 400 – 800 m di daerah pegunungan Baturagung.

Berikut adalah gambaran keadaan topografi dan kemiringan lereng Kabupaten Gunungkidul.

Peta kemiringan lereng Gunungkidul
Peta kemiringan lereng Gunungkidul

Analisis Kependudukan Kabupaten Gunungkidul

Distribusi dan Kepadatan Penduduk

Persebaran atau distribusi penduduk berkaitan dengan daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah. Indikator yang umum dipakai adalah Rasio Kepadatan Penduduk (density ratio).

Rasio Kepadatan Penduduk adalah rasio yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk terhadap luas wilayah atau berapa banyaknya penduduk per kilometer persegi pada tahun tertentu.

Dengan demikian, analisis mengenai distribusi penduduk dapat dilakukan dengan kepadatan penduduk kabupaten Gunungkidul.

Berikut adalah statistik kepadatan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Gunungkidul tahun 2007.

Tabel 1 :  Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2007

NOKECAMATAN LUAS WILAYAH (KM 2 )JUMLAH PENDUDUK Kepadatan
(Jiwa/Km2)
     
 1. Panggang 99,8026.500266
 2. Purwosari 71,76 18.751 261
 3. Paliyan 58,07 29.937516
 4. Saptosari 87,83 25.431403
 5. Tepus 104,9133.714 321
 6. Tanjungsari 71,63 26.387 368
 7. Rongkop83,46 28.912346
 8. Girisubo94,57  23.770 251
 9. Semanu 108,39 53.611495
 10. Ponjong 104,4951.143489
 11. Karangmojo 80,12 49.782621
 12. Wonosari 75,5175.5171000
 13. Playen 105,26 53.395507
 14. Patuk 72,0428.833400
 15.Gedangsari  68,14 36.956542
 16. Nglipar 73,87 29.789403
 17. Ngawen 46,5931.447675
 18. Semin 78,9251.335650
  Jumlah 1.485,36 685.210 461
Sumber : Gunungkidul Dalam Angka 2008

Dari tabel di atas, jumlah penduduk Gunungkidul pada tahun 2007 adalah sebanyak 685.210 jiwa. Sehingga dengan luas 1.485,36 km2,  Gunungkidul mempunyai kepadatan 461 jiwa per km.

BACA JUGA  Prinsip-prinsip dasar ilmu lingkungan

Angka ini lebih rendah dari angka kepadatan penduduk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai 1,045 jiwa per km2 dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kepadatan Kota Yogyakarta yang mencapai 15.414 jiwa per km2.

Kepadatan Gunungkidul yang cukup rendah ini disebabkan oleh pembangunan daerah tersebut yang dapat dikatakan cukup tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain. Selain itu terdapat beberapa alasan yang menyebabkan  persebaran penduduk Gunungkidul tidak merata.

Peta kepadatan penduduk gunungkidul
Peta kepadatan penduduk gunungkidul

Gunungkidul memiliki keadaan yang berbeda-beda disetiap wilayahnya, mulai dari daerah yang merupakan perbukitan karst, dataran, dan pegunungan dengan batuan hasil proses vulkanisme.

Dengan demikian terdapat perbedaan mengenai ketersediaan air, kesuburan tanah, dan daya dukung daerahnya. Hal ini membuat persebaran penduduk Gunungkidul tidak merata, melainkan terkesan terkonsentrasi di daerah tertentu saja.

Dari peta di atas terdapat empat kelas kepadatan.

  • Untuk kelas pertama yaitu dengan kepadatan 253-269 adalah Kecamatan Girisubo, Tepus, Panggang, dan Purwosari;
  • Kelas kedua dengan kepadatan 350-470 adalah Kecamatan Rongkop, Tanjugsari, Saptosari, Nglipar dan Patuk;
  • Kelas ketiga dengan kepadatan 487-523 adalah Kecamatan Semanu, Playen, Paliyan dan Ponjong;
  • Kelas terakhir dengan kepadatan 542-999 meliputi Kecamatan Wonosari, Karangmojo, Ngawen, Semin dan Gedangsari.

Kecamatan yang memiliki kepadatan terendah semuanya berada di daerah selatan, yaitu pada daerah karst Gunung Sewu.

Hal ini disebabkan oleh ketersediaan air yang kurang memadai, tanahnya yang tidak produktif, serta jauh dari pusat perkembangan yaitu kota Wonosari.

Adapun kecamatan di daerah selatan yang memiliki kepadatan lebih besar adalah Kecamatan Tanjungsari, Saptosari dan Rongkop.

Sedangkan kecamatan yang berada dikelas kedua tersebar di daerah utara yaitu Nglipar dan Patuk serta sebelah selatan adalah Kecamatan Rongkop, Tanjugsari, dan Saptosari. 

Daerah ini merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan kecamatan yang cukup maju seperti Tanjungsari dan Saptosari yang berbatasan dengan Wonosari, dan Rongkop  berbatasan dengan Kecamatan Semanu.

Kecamatan yang berada di kelas ketiga adalah kecamatan yang berada di daerah ledok Wonosari yang merupakan daerah yang cukup air dan tanahnya subur.

Apalagi keberadaan kota Wonosari di daerah dataran tersebut membawa pengaruh terhadap kecamatan sekitarnya.Kelas kepadatan keempat juga merupakan pusat perkembangan yaitu Wonosari sendiri dan Karangmojo yang kota kecamatannya hanya berjarak 9 km dari Wonosari.

Namun, ada sebuah faktor lagi yang cukup berpengaruh dalam hal terkonsentrasinya penduduk, yaitu faktor jalan.

Kecamatan yang dilewati jalan nasional yang menghubungkan Provinsi DIY dengan Jawa Tengah tumbuh cukup cepat yaitu, Patuk, Nglipar, Playen, Wonosari, dan Semanu.

Selain itu daerah yang dilewati jalan provinsi yaitu Karangmojo dan Semin juga berkembang dengan baik.

Informasi distribusi penduduk dan kepadatan penduduk dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan, terutama untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk dalam kota yang akan menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial seperti kemiskinan dan pemukiman kumuh.

Merujuk dari data kepadatan penduduk Gunungkidul menurut kecamatan, belum ada satu atau dua kecamatan yang mempunyai angka kepadatan yang cukup tinggi.

Dengan demikian Gunungkidul masih belum akan mendapatkan permasalahan yang berkaitan dengan kepadatan penduduk.

Hal ini juga berkaitan dengan belum adanya CBD, dalam hal ini kota Wonosari yang bisa menarik penduduk ke daerah tersebut, mengindikasikan Gunungkidul masih merupakan daerah berkembang.

Untuk itu, perlu ditumbuhkan pusat-pusat perkembangan baru yang cukup strategis agar dapat mengayomi semua daerah di Gunungkidul.

Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Hal yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk suatu wilayah adalah kelahiran, kematian, dan migrasi.

BACA JUGA  Apakah GEOBIA Merupakan Sebuah Paradigma?

Pada tulisan ini, tingkat pertumbuhan penduduk dihitung dengan menggunakan rumus secara geometrik yaitu dengan menggunakan dasar bunga-berbunga (bunga majemuk).

Tabel 2: Gambaran Penduduk Kabupaten Gunungkidul, 2002 dan 2004 – 2007 (BPS Kabupaten Gunungkidul)

Pertumbuhan penduduk Gunungkidul
Pertumbuhan penduduk Gunungkidul

Penghitungan angka pertumbuhan penduduk menggunakan metode aritmatik dengan berdasar data jumlah penduduk Gunungkidul pada tahun 2002 dan 2007, didapatkan angka pertumbuhan penduduk sebesar 0,4 persen per tahun.

Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan penduduk Gunungkidul antara tahun 1980-1990 yaitu sebesar 0,13 % yang juga mengalami kenaikan pada periode tahun 1990-2000 menjadi 0,26 %.

Naiknya angka pertumbuhan penduduk ini disebabkan oleh  kelahiran yang lebih banyak daripada kematian dan juga banyaknya pendatang.

Angka pertumbuhan penduduk juga dapat mengindikasikan naiknya tingkat kesejahteraan penduduk yang disebabkan oleh keberhasilan pembangunan dalam segala bidang.

Angka pertumbuhan penduduk yang cenderung naik ini sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk dimasa mendatang.

Dengan dapat mengetahui prediksi jumlah penduduk, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan dasar penduduk dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik, dan menyikapinya dengan mengeluarkan kebijakan yang tepat sasaran dan efisien.

Namun, prediksi ini belum sepenuhnya dapat dikatakan baik, karena belum menggunakan data-data pendukung lain meliputi fertilitas, mortalitas dan migrasi.

Rasio Ketergantungan

Angka rasio ketergantungan (dependency ratio) adalah angka yang menyatakan besarnya beban yang menjadi tanggungan kelompok umur produktif.

Angka ini diperoleh dengan menghitung rasio antara penduduk yang produktif (umur 15-64 tahun) dengan yang tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun keatas).

Dengan demikian semakin kecil rasio ketergantungan maka akan semakin baik . Untuk mengetahui rasio ketergantungan dapat dilakukan dari data berikut.

Tabel 3 :  Jumlah Penduduk menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin  di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2007 (BPS Kabupaten Gunungkidul)

NoGolongan umurLaki-LakiPerempuanJumlah
10-4250361689941935
25-9233922264946041
310-14296882345553143
415-19300691966149730
520-24145721793632508
625-29198852109940984
730-34226782356846246
835-39251972730552502
940-44210882816749255
1045-49205992379944398
1150-54192292518044409
1255-59226792230544984
1360+6129977776139075
 Jumlah335411349799685210
Sumber : Gunungkidul Dalam Angka 2008

Berdasarkan data di atas, didapatkan angka rasio ketergentungan sebesar 55,15 persen, yang berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 55 orang yang belum produktif atau sudah tidak produktif lagi

Angka rasio ketergantungan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2007 tergolong sedang karena masih di dalam selang 51-69.

Dengan angka ketergantungan yang sedang ini maka perlu diwaspadai karena ada kecenderungan naiknya angka ketergantungan ini dari tahun 2006 (data table 2).

Untuk menurunkan atau menjaga angka rasio ketergantungan ini dapat dilakukan beberapa kebijakan antara lain melaksanakan program KB untuk menahan bertambahnya golongan muda yang terlalu besar dan wajib belajar 9 tahun.

Hal ini perlu diperhatikan karena dengan tingginya angka rasio ketergantungan, akan diikuti dengan naiknya tingkat kriminalitas dan ketidaksiapan menghadapi krisis ekonomi.

Status Pendidikan

Untuk analisis dalam hal status pendidikan ini, digunakan data jumlah penduduk yang menyelesaikan sekolah atau tingkat pendidikan penduduk yang terdapat pada Tabel 2 mengenai gambaran penduduk Kabupaten Gunungkidul.

Menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan, penduduk Kabupaten Gunungkidul didominasi oleh mereka yang menamatkan tingkat pendidikan SD ke bawah yang mencapai 68,05 persen, dlikuti oleh kelompok penduduk yang hanya menamatkan SMP yakni sekitar 18,03 persen, dan SLTA tercatat sebesar 11,41 persen, selebihnya sekitar 3,17 persen adalah penduduk yang menamatkan pendidikan tingkat Diploma ke atas.

BACA JUGA  Analisis klasifikasi iklim Kabupaten Gunungkidul

Kecenderungan selama lima tahun terakhir mwnunjukkan makin kecilnya proporsi penduduk yang hanya berpendidikan SD ke bawah, yakni dari 72,22 persen pads tahun 2002 dan berangsur turun menjadi 68,49 persen pads tahun 2007.

Sebaliknya persentase penduduk yang berpendidikan SMP dan SMA menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, yaitu naik 0,79 persen untuk SMP dan 2,53 persen untuk tingkat SMA.

Demikian pula proporsi penduduk yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat diploma dan sarjana jugs semakin meningkat, dari 1,91 persen pads tahun 2002 menjadi 2,33 persen pada tahun 2007.

Hal-hal yang menjadi indikasi terhambat berkembangnya pendidikan penduduk Gunungkidul antara lain adalah tingginya angka putus sekolah.

Tingginya angka putus sekolah selain faktor ekonomi, juga letak geografis dimana jarak dari rumah ke sekolah SMP/MTs cukup jauh, mengakibatkan anak usia 13-15 tahun enggan untuk melanjutkan. Sehingga tidak sedikit ditemukan setelah lulus SD langsung dikawinkan atau bekerja di sektor bangunan atau sebagai pembantu rumah tangga.

Meskipun masih bisa dikatakan rendah jika dibandingkan dengan kabupaten lain, kecenderungan naiknya tingkat penduduk ini mengindikasikan keberhasilan yang cukup baik dibidang pendidikan.

Selain itu hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin meningkat. Dengan semakin baiknya tingkat penduduk ini, akan diikuti dengan terciptanya sumberdaya manusia  yang berkualitas untuk pembangunan di masa mendatang.

Kualitas Pendidikan

Pengukuran kualitas pendidikan yang berjalan di suatu daerah dapat dilakukan dengan melihat  rasio jumlah murid dengan jumlah kelas, atau rasio jumlah murid dengan guru. Analisis kualitas pendidikan Gunungkidul dilakukan dengan berdasarkan data pada Tabel 4.

Tabel 4: Tabel Indikator Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Tahun 2002 dan 2004 – 2007 (BPS Kabupaten Gunungkidul)

Kualitas pendidikan Gunungkidul
Kualitas pendidikan Gunungkidul

Menurut data tersebut, secara umum kualitas pendidikan mengalami kenaikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Ditinjau dari angka rasio murid-kelas, angka tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Dengan demikian, jumlah murid dalam satu kelas semakin kecil sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif. Dapat dilihat pada jenjang SD dan SMP angka rasio tidak berkembang, maka kemungkinan jumlah tersebut sudah merupakan jumlah yang ideal dan efisien. Adapun mengenai rasio murid-guru juga mengalami hal yang sama.

Angka partisipasi SMP menunjukkan bahwa program wajib belajar masih belum tuntas. Hal yang menjadi penghambat tentunya adalah faktor ekonomi dan jarak rumah dari sekolah yang cukup jauh.

Adapun strategi yang dapat dilaksanakan dalam upaya percepatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun adalah dengan perluasan kesempatan belajar, antara lain dengan menambah ruang kelas baru bagi SMP/MTs yang jumlah siswanya melebihi daya tampung.

Selain itu, dapat juga dengan menambah beberapa jumlah SD mupun SMP di desa-desa. Dengan adanya pendidikan gratis, kualitas pendidikan penduduk Gunungkidul bukan tdak mungkin akan bertambah dengan pesat.

Angka Melek Huruf

Angka Melek Huruf (AMH) adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari.

Untuk analisis angka melek huruf, pada tulisan ini digunakan Tabel 4.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa angka melek huruf  Kabupaten Gunungkidul mengalami kenaikan dalam 5 tahun terakhir.

Hal ini dapat diartikan bahwa kebijakan pemerintah berikut perkembangan dalam hal pendidikan dapat dinilai cukup berhasil.

Hal ini juga menunjukkan kemampuan penduduk Gunungkidul dalam menyerap informasi dari berbagai media cukup baik.

Angka melek huruf ini menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Dengan demikian, Kabupaten Gunungkidul mempunyai potensi yang baik dalam hal sumberdaya manusia.

Penutup

Dalam hal kependudukan, Kabupaten Gunungkidul menempati urutan terbawah jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hal ini dapat dilihat dari kualitas sumberdaya manusianya yang tercermin dalam status dan kualitas pendidikan penduduk, angka melek huruf dan rasio beban ketergantungan.

Namun, kecenderungan yang terjadi dalam kurun waktu 2002-2007, angka rasio ketergantungan, status dan kualitas pendidikan, mulai mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Faktor-faktor yang menjadi penghambat adalah kondisi geografis, baik itu ketersediaan air dan kondisi tanah yang kurang mendukung. Selain itu, minimnya prasarana pendidikan, dalam hal ini sekolah, juga merupakan faktor penghambat.

Untuk itu, perlu dilakukan kembali usaha-usaha untuk lebih meningkatkan kualitas penduduk Gunungkidul antara lain dengan penambahan prasarana pendidikian dan peningkatan mutu pendidikan.

Catatan:

Tulisan ini diambil dari tugas mata kuliah Evaluasi Sumberdaya Wilayah. Tulisan dibuat pada tahun 2009.

Bagikan ke yang lain
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belajar Geographic Object Based Image Analysis (GEOBIA)Pelajari lebih lanjut..